Dec
06
2006
Sudah sebulan ini saya mencoba layanan komunikasi baru dari Indosat, yaitu StarOne. Awalnya saya tergoda dengan Pak Topik, rekan dosen Teknik Informatika UNISSULA yang telah menggunakan layanan ini terlebih dahulu. Sebelum menggunakan StarOne, saya biasa menggunakan Telkom Flexi untuk berkomunikasi data, namun rekening telepon sebulan kemarin melonjak jauh… (maklum tarif Internet menggunakan Flexi sekitar Rp.7/Kb). Tapi dengan tarif yang ditawarkan StarOne saat ini (Rp.200/Mb) saya tidak takut lagi untuk berlama-lama berselancar di jagad maya.
Untuk kestabilan koneksi, Telkom Flexi kualitasnya memang lebih unggul dibandingkan StarOne, namun disisi kecepatan, StarOne masih unggul dibanding pesaingnya tersebut (sayangnya saya belum sempat mengukur). Handheld yang saya gunakan untuk berkoneksi Internet adalah Nokia 6225, yang menggunakan kabel data DKU-5 untuk berkoneksi dengan PC.
Moga-moga aja tarif StarOne yang berlaku sekarang tidak cuma akal-akalan pihak Indosat dalam berpromosi, harapannya sih tarif ini bisa seterusnya berlaku, bahkan kalau bisa lebih murah lagi (misal Rp.200/1 Gb) he..he..he. Dengan koneksi murah seperti ini sepertinya butuh handphone CDMA dengan power yang lebih kuat, karena biasanya handphone CDMA memiliki lifetime yang lebih pendek dibanding handphone GSM.
Akhir-akhir ini memang marak, para vendor menawarkan produk Internet murah. Misalnya Speedy yang menawarkan diskon sampe 50%, lalu ada juga Pro-XL yang menawarkan paket Internet Rp.300.ooo/bulan dengan kapasistas data unlimited. Beberapa rekan dosen lain di Teknik Informatika juga telah mencoba layanan Internet dari Pro-XL ini, dan mereka merasa puas. Nah, silahkan pilih-pilih layanan mana yang sesuai, Selamat mencoba!
Dec
05
2006
Cerita yang ingin saya angkat kali ini adalah tentang kenangan-kenangan saya bersama musik independent atau yang sering disebut dengan musik indie. Kata indie sebenarnya merupakan singkatan kata Indiependent (kemerdekaan). Kemerdekaan bermusik ini diartikan sebagai kemerdekaan dalam menciptakan lagu, merekam dan mendistribusikan musik yang kita buat tanpa dipengaruhi keinginan manajemen industri besar. Musik indie seringkali disebut dengan indie label, yang merupakan opposite dari major label (industri besar musik).
Sekitar tahun 1996 ramai dibicarakan tentang musik indie di Indonesia, saya masih ingat waktu itu pertama kali tahu tentang model distribusi musik ini lewat sebuah lagu dari band “Pure Saturday” yang berjudul “Kosong”. Karena sering terdengar di radio-radio swasta di Semarang, dan kebetulan lagunya memang apik, maka saya coba cari-cari info tentang lagu dan grup ini. Saya baru tahu kalau saat itu dengan musik independent setiap orang dapat menjadi terkenal tanpa harus masuk dalam industri besar musik (major label), jadi idealisme musik dapat terus dipertahankan. Berikutnya di radio dan TV mulai muncul PAS Band lewat lagu “Impresi”, grup dari bandung ini memberi nuansa baru dalam media elektronik.
Continue Reading »
Dec
02
2006
Saat masih menjadi mahasiswa (baik S-1 maupun S-2) saya paling malas jika harus bertemu dengan ujian yang sifatnya tutup buku (close book). Mungkin hal serupa juga dirasakan oleh sebagian besar mahasiswa dan mahasiswi di negeri ini. Mengapa ujian jenis ini menyebalkan? Karena dalam ujian jenis ini, mahasiswa harus benar-benar siap untuk menghadapinya, materi pelajaran harus dipastikan tersalin ke otak, padahal sebagian mahasiswa mengalami kesulitan apabila harus menghafal (termasuk saya). Padahal dalam dunia kerja nantinya-pun mereka (mahasiswa) tidak akan perlu untuk menghafal dan menutup buku, tetapi mereka berkesempatan untuk membuka bukunya kembali apabila menemui kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan di dunia kerja.
Dunia kerja tidak hanya membutuhkan kecerdasan pribadi seperti halnya yang berlaku dalam ujian tutup buku. Dalam ujian jenis ini, mahasiswa dilarang untuk saling mencontek, atau meniru hasil pekerjaan temannya. Padahal yang dibutuhkan dalam dunia kerja adalah kerjasama antar pribadi, leadership (kepemimpinan) dan dinamika kelompok yang jelas tidak tercermin dalam jenis ujian tutup buku. Konsep ujian tutup buku, menurut saya hanya cocok bagi pendidikan dasar saja, terutama untuk mata pelajaran yang menuntut porsi menghafal yang besar. Sedangkan bagi pendidikan tinggi dan menengah, model ini sudah tidak perlu lagi.
Continue Reading »
Dec
01
2006
Ristek kembali menghadirkan program televisi dengan nama “SUDUT BIDIK IPTEK”. Program tv yang bekerjasama dengan Q-TV ini dimaksudkan untuk lebih memperkenalkan dan mendekatkan iptek pada para decision maker baik di lingkungan Pemerintahan, Parlemen dan Pelaku bisnis/industri di samping itu juga untuk lebih mengharmoniskan hubungan ABG: Akademisi, Businessmen dan Government
|

Oleh karena itu, program tv ini, dirancang dengan format talk show yang menghadirkan tiga narasumber dari Akademisi, Businessmen dan Government. Tayangan perdana program ini mengenai “IGOS:
Indonesia, Go Open Source!”, dengan menghadirkan narasumber: Prof.Dr.Engkos Koswara (Asisten Deputi Pengembangan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi-Ristek), Dr.Benhard Sitohang (Ketua Simposium Asia Open Source Software, Dept. Teknologi Informatika-ITB) dan Budi Wahyu Jati ( Country Manager INTEL INDONESIA Corp.).
Jika anda tertarik dengan Open Source Software (OSS) seperti mengapa kita harus menggunakan OSS? apa kelebihan OSS? Apa bedanya dengan Windows yang sudah kita kenal? Latar belakang, apa dan bagaimana IGOS? Saksikanlah SUDUT BIDIK IPTEK di Q-TV dan SWARA. Rencana penayangan perdana pada hari Sabtu 2 Desember 2006 pukul 21.00 di SWARA dan hari Senin 4 Desember 2006 pukul 10.00 di Q-TV. Tayangan-tayangan ulang selanjutnya akan diinformasikan kemudian.