Jun 06 2007
Pendidikan Kewirausahaan Teknologi Informasi yang Setengah Hati
Tulisan ini merupakan keluh kesah penulis yang selama ini melihat ketidakseriusan pihak perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pendidikan teknologi informasi dan informatika khususnya, dikarenakan program studi yang selama ini ada tidak dengan serius memberikan materi kewirausahaan teknologi informasi. Yang selama ini terjadi adalah pendidikan kewirausahaan di realisasikan dalam sebuah mata kuliah kewirausahaan yang notobene hanya 2 (dua) SKS saja, itupun tidak spesifik menyentuh aspek praktik teknologi informasi. Dengan volume pengajaran yang 2 (dua) SKS saja, penulis mengira masih belum cukup untuk memperoleh hasil yang maksimal, seperti yang diharapkan oleh institusi pendidikan tinggi, yaitu mencetak wirausaha di bidang teknologi informasi.
Selama ini dosen kewirausahaan hanya mengajarkan teori-teori kewirausahaan, kepemimpinan dan ekonomi saja, namun aplikasi di lapangan, pentingnya HAKI dan kemandirian teknologi (seperti penggunaan software opensource) tidak pernah disentuh. Bahkan lucunya, banyak pula dari dosen yang mengajarkan kewirausahaan tersebut belum atau tidak memiliki usaha mandiri atau berwirausaha. Hasilnya, pendidikan teknologi informasi di Indonesia tetap saja menghasilkan banyak kuli-kuli TI yang terkungkung sebagai mesin uang bagi pemilik modal besar.
Terdapat sebuah contoh menarik yang dilakukan oleh Universitas Gunadarma, yang merupakan salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Universitas ini memiliki sebuah bisnis inkubator yang setiap tahunnya berusaha mencetak lebih dari 10 (sepuluh) perusahaan TI dari para mahasiswanya yang telah lulus. Dalam inkubator bisnis tersebut kelompok mahasiswa diajarkan pendidikan kewirausahaan, mulai dari pembuatan proposal bisnis, studi kelayakan usaha, pendidikan ketrampilan, kepemimpinan dan organisasi, kemandirian teknologi (dengan software opensourse) sampai pada hasil akhir berupa sebuah perusahaan TI lengkap dengan ijin badan usaha dari pemerintah (berbentuk CV). Staf pengajar yang bergerak di inkubator bisnis lebih banyak dari para praktisi TI yang telah berhasil berwirausaha. Untuk menjalankan inkubator bisnis tersebut universitas dibantu oleh Departemen Perindustrian, khususnya dalam urusan dana. Terbukti, saat ini banyak perusahaan IT di Indonesia di dominasi oleh perusahaan hasil inkubator bisnis dari Universitas Gunadarma. Tanpa bantuan dari pemerintahpun sebenarnya setiap perguruan tinggi dapat menjalankan model pendidikan kewirausahaan seperti ini disesuaikan dengan besaran dana yang ada.
Sepenggal pengalaman tersebut adalah bukti konkret keberhasilan pendidikan kewirausahaan teknologi informasi di perguruan tinggi yang memiliki program studi teknologi informasi, informatika dan komputer. Penulis berharap apa yang telah dipaparkan diatas dapat menjadi inspirasi bagi perguruan tinggi yang lain untuk melakukan hal yang sama, agar bangsa ini dapat segera lepas dari masalah pengangguran.
Create a free edublog to get your own comment avatar (and more!)












Benar Pak Gora, sering mata kuliah yang diajarkan tidak sesuai dengan konteks yang ada pada jurusan itu sendiri, sangat disayangkan kalau kuliah di jurusan TI tapi salah satu matakuliah tidak menerapkan nilai-nilai teknologi informasi,