Aug 20 2007
Sweeping Selesai, Ya Balik Lagi ke Windows Bajakan
Kalo ngga begitu yaa bukan Indonesia namanya..he..he.. Ya, beberapa hari yang lalu ketika sweeping software berlangsung di toko komputer, lembaga kursus dan warnet maka mereka yang di-sweeping beramai-ramai untuk melakukan migrasi ke GNU/Linux. Waktu itu saya menyangka kalau sweeping yang dilakukan pihak kepolisian kali ini akan membawa dampak positif bahwa penggunaan software opensource akan meluas, namun hal itu hanya impian belaka. Banyak dari toko komputer dan warnet yang kembali lagi menggunakan software bajakan setelah sweeping selesai. Ah..sama juga ternyata… [The Indiebrainer]
Create a free edublog to get your own comment avatar (and more!)










Waduh ternyata sami mawon ya. Ngga ada semangat opensource-nya sama sekali. Turut sedih akan hal ini. Meskipun saya lagi agak sebal pakai Linux Mandriva, tapi setidaknya saya saat ini pakai piranti lunak berbayar hehehe meskipun sebagian dibayarin kantor
Btw mas Gora, saya boleh minta dikirimi CD Sulax-nya gak. Buat coba install, siapa tau lebih ‘mudhengi’ buat saya yg awam Linux. Bukan utk tujuan komersiil, kalo Sulax menyenangkan ya saya promosikan dikit2 via blog saya yg ngga rame2 banget. Kalo Sulax tetep sulit buat saya, ya mungkin saya aja yg pemalas. Hehehe…Kalo ngga merepotkan, mohon kontak via email saya ya. Moga2 Sulax itu sekali install langsung bisa dipakai ngetik, simpan file ke flashdisk/partisi selain Linux, mengenali piranti2 keras lainnya, de el el gitu semanja Windows.
Makasih sebelumnya. Salam, Andra.
mas klo di kotaku malah kong kalikong ama polisine mas. toko komputer besar tetep nginstall win@#*& bajakan untuk konsumennya. kata pegawainya udah setor ke pak pol jadi klo ada razia di telpon dulu gitu he3…mbuh mas kaco pokoke
Wah kalo gitu sama dong sama di Semarang, kabarnya toko komputer ditarik upeti 500rb an setiap bulannya, uang itu katanya dibagi buat oknum di polres, polwil dan polda… ternyata sama kacaunya…
Tanpa bermaksud promosi ataupun menjelekkan salah satunya, menurut saya bila tidak ingin terkena sweeping ya harus menyiapkan modal yang cukup besar untuk membeli lisensi. Setahu saya, contohnya di AYOLA Cybernet&Game Center. Sedangkan kalo belum cukup modal, ya harus rela berjibaku belajar free open source software. Yang konsekuen gitu sesuai kemampuan. Salam,Andra.
Nah harusnya gitu…
Kok sama ya mas.. Pokoke asal ada uang anti sweeping semua beres… res. Kalo dipikir bangsa ini bangsa yang berbudaya tinggi, kita punya modal dan kita punya otak.. something wrong ?… Semua merupakan sebuah dilema.. gawan bayi..
Sejak kita mulai belajar komputer, kita sudah dikenalkan dengan sebuah system operasi DOS hal ini berlanjut ketika kita mengenal sebuah tampilan visual dengan pengaturan menggunakan mouse yang pada saat itu masih tenar dengan Windows 3.X. Sejak itulah kita hanya mengenal yang namanya komputer adalah windows dan itu berlanjut sampai sekarang, ibarat sudah menjadi trademark bahwa komputer adalah windows.
Pada saat itu kita tidak memperhatikan apakah software yang kita pakai adalah asli atau bajakan, yang penting ada dan dapat digunakan, cuek aja…. pemerintah aja pakai bajakan apalagi kita….!!. Dari sepenggal kata tadi apa yang salah dari kita? Ibarat kita makan makanan yang sehat bergizi dan bermanfaat bagi tubuh tetapi kita mengolah dengan menggunakan alat dan cara yang tidak halal (curian/bajakan), apa kita merasa menikmati makanan yang sehat tadi ? Jawaban terserah hati nurani Anda.
Pemerintah tidak serta merta membiarkan kebodohan nurani ini akan berkembang menjadi sebuah budaya (sekarang sih sudah menjadi budaya om..), dengan mengadakan MOU antara Menkominfo dengan Microsoft akan diusahakan sebuah pemecahan masalah yang sudah akut dan mendarah daging yaitu penggunaan software bajakan. Oke lah .. itu sebuah kiat yang mungkin secara logika dianggap baik, namun apakah dengan mengeluarkan dana hampir 1 Trilyun hanya untuk membeli CD (cd nya buanyaak kali….) tidak menyentuh nurani kita dikala banyak saudara kita setiap harinya hanya makan nasi aking, bonggol pisang dan banyak lagi yang harus kita tolong.
Tetapi Alhamdulillah MOU nggak jadi.. thus lanjutannya gimana ? Kita rame-rame bajak (kaya kebo aja, mbajak sawah)? Ingat saudaraku bangsa kita bukan bangsa yang bodoh, meskipun masih sedikit saudara kita yang bergelar kesarjanaan namun justru ada saudara kita yang tidak masuk hitungan. ABAKURA . Apa itu? emangnya makanan. Banyak saudara kita yang tidak dapat mengenyam pendidikan yang tinggi namun mereka mempunyai daya kreasi yang tinggi, mereka adalah ABAKURA (ada bakat kurang ragat). Thus apa hubungannya dengan Windows ? O.. banyak.. Kita ini bangsa mandiri, kita tidak boleh tergantung dalam segi apapun dengan negara lain, kita punya sumber daya,kita punya otak.. Mengapa kita tidak membangun OS sendiri yang notabene merupakan ciri khas bangsa ini.
Mulai sekarang kita coba singkirkan minded software bajakan, kita bangun sendiri untuk kita untuk bangsa dan untuk semua. Thank’s untuk Zencafe, IGOS,Pinux dan yang lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Pakai Linux siapa takut …. Atau dengan kata lain bukan seorang IT sejati bila tidak kenal linux. Kita ciptakan bangsa ini sebagai bangsa pembuat karya bukan sebagai pemakai karya. ….Bravo Linux Indonesia….
# Kenthus: “Atau dengan kata lain bukan seorang IT sejati bila tidak kenal linux. Kita ciptakan bangsa ini sebagai bangsa pembuat karya bukan sebagai pemakai karya. ….Bravo Linux Indonesia…. ”
Semua sama hebatnya, ngga perlu saling meremehkan toh.
Ah masa… bidang TI itu sangat banyak kok, gak melulu Linux doang. Konsentrasinya aja udah bercabang-cabang, ada yang jadi programmer, system analyst, managerial, information systems, network administrator, dll. Saya ngga bisa Linux (baru belajar tapi kurang suka dengan unfriendliness-nya), tapi kok saya bisa kerja jadi programmer ya, trus bisa lulus Master TI UI ya… piye mas? Di kantor saya, juga pakai OS yang mirip DOS-mode, selain Windows tentunya. Ngga usah mendewa-dewakan satu bidang TI deh, setiap orang bisa punya andil dalam memajukan TI, dengan kapasitasnya masing-masing kok.
Tenang para hadirin….
RADAR MALANG Sabtu, 29 Des 2007
Sabtu, 29 Des 2007
Lagi, Polwil Razia Warnet
MALANG - Sukses merazia warnet yang menggunakan software bajakan pada awal 2007 lalu, Kamis (27/12) kemarin Polwil Malang kembali merazia warnet. “Amunisi” yang dibawa polisi untuk melakukan razia adalah pasal 40 huruf c, UU Perfilman Nomor 8/1992 tentang menayangkan film yang tidak disensor terlebih dahulu melalui Lembaga Sensor Film Indonesia .
Dalam razia yang berlangsung mulai pukul 11.00 hingga pukul 12.00 ini, petugas menyita sebanyak 116 unit personal computer (PC) dari empat warnet, yakni X-trem di Jl MT Haryono, Wardot di Jl Danau Toba, Lilo Magnet yang berada di Ruko Dinoyo Permai. Hingga kemarin, Reskrim Polwil Malang masih menuntaskan penyidikan terhadap 12 saksi dari karyawan, konsumen dan teknisi pada warnet itu.
Kasubag Reskrim Polwil Malang AKP Jamaludin Farti mengatakan, razia ini berawal dari penyelidikan yang pernah dilakukan seminggu sebelumnya. “Kami temukan banyak film yang di-copy dari internet. Satu komputer kami temukan sekitar lima film,” katanya.
Dari hasil penyelidikan diketahui, warnet-wanet ini dikenal memang kerap menyediakan film-film p0rn0 yang bisa dengan mudah menikmatinya tanpa harus men-download terlebih dahulu dari situs yang menyediakannya.
Jamaludin menduga ada kesengajaan yang dilakukan pengelola untuk men-copy film tanpa sensor. Tujuannya sebagai daya tarik agar warnet bisa banyak menjaring konsumen.
Razia ini, menurut Jamaludin, sangat bermanfaat bagi orang tua yang memiliki anak berusia remaja. Karena dengan razia itu maka warnet selama ini menyediakan layanan nonton film p0rn0, bakal menghapus semua film-film yang tersedia dalam data komputernya. “Faktanya, pada jam efektif sekolah warnet banyak dikunjungi oleh pelajar. Dari mereka ternyata banyak yang nonton layanan film p0rn0,” urainya. (mas/ziz)