Dec 19 2008
Indonesia Phillipine Intel Teach Essentials Course Training
Beberapa hari yang lalu saya mengikuti pelatihan Intel Teach Program Essentials Course yang diselenggarakan oleh Intel Education. Acara ini berlangsung di Hotel Grand Kemang, Jakarta pada tanggal 15-19 Desember 2008. Pelatihan yang menarik ini dihadiri oleh beberapa peserta dari Indonesia dan Filipina. Tercatat sekitar 12 (dua belas) peserta yang merupakan Senior Trainer untuk program Intel Teach di Indonesia dan Filipina hadiri di acara ini termasuk Manajer Intel Education Indonesia, Brimy Laksmana. Kami dipandu oleh fasilitator dari Pakistan, yaitu Ratan Saleem.
Mengapa acara pelatihan ini sangat menarik? Saya merasa mendapat ilmu baru khususnya mengenai bagaimana mendesain Project Based Learning (PBL) memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk problem solving, mengintegrasikan ketrampilan abad 21 dan berfikir kritis, dimana dalam pelatihan ini hal tersebut dijelaskan dengan sangat detil. Mulai dari desain unit plan, menyiapkan proses evaluasi, portfolio siswa dan menyiapkan segala sesuatu untuk mendukung kebutuhan proses pembelajaran.
Hal lain yang menarik adalah, dalam pelatihan ini kita mendapatkan banyak informasi dari Filipina, karena departemen pendidikan mereka sejak tahun 2002 telah mengadaptasi kurikulum PBL yang disediakan oleh Intel Education. Dan mereka benar-benar mengimplementasikannya di dalam kelas. Ketika tahu informasi ini, sekarang kita merasa seperti katak dalam tempurung
Namun, kita merasa optimis seiring berjalannya waktu pendidikan Indonesia akan semakin maju.
Hal yang tidak bisa dipungkiri adalah, ketika kita sebagai peserta training melakukan perancangan unit plan, yang disesuaikan dengan kurikulum nasional, maka kita melihat bahwa kompetensi yang ada disana hanyalah low order thinking, kami sadar karena kompetensi yang disajikan disana merupakan kompetensi minimum, namun tidak ada salahnya kedepan pemerintah mempertimbangkan untuk meningkatkan standar yang ada untuk menuju kualitas yang lebih baik.
Create a free edublog to get your own comment avatar (and more!)








Tul mas Gora, kalau kita bandingkan dengan negara lain rasanya kita seperti “Katak dalam Tempurung”. Tahun 70-80an kita merasa bangga dengan banyaknya orang-orang luar yang sekolah di negara kita. Kita hanya hidup dengan kebanggaan itu, sementara negara yang dulu belajar dari negara kita sudah meninggalkan kita dalam segala hal.
Ya, kita tetap optimis dah.
Saya percaya mas gora, bisa menjadi salah seorang motor untuk mengubah pandangan guru kita di lapangan.
Saya yakin DBE2 bisa memenuhi keinginan guru di lapangan. Guru-guru seperti pa Hari Saptono dan Bu Sulistiyani Rahayu patut dijadikan contoh. Beliau-beliau ini, less talk do more (bukan mild ini mah)…
Mari kita cerdaskan bangsa kita….
Kumaha kang, damang? Wah gimana negh kabar blognya? Sae-sae wae atuh? Waktu kemarin ketemu orang Filipina saya sangat kaget pak ketika mereka sudah lama menerapkan PBL dan malahan diakomodasi dan didukung penuh oleh pemerintah..
Tapi kita harus optimis pak, kita sudah melakukan sebuah langkah lewat training kemarin, meskipun masih kecil. Tapi saya yakin, kedepan kalo hasil kemarin sudah diimplementasikan, maka hasilnya akan mak nyosss!!! Pilot aja dulu lah…
Semoga bangsa ini jadi lebih maju…. Saya berharap banyak kepada para widyaiswara di P4TK seperti pak Basor dapat merubah mindset para guru kita! Selamat berjuang Pak Basor!
Halo Bang Said!Senang menjadi Partner abang selama di pelatihan kemarin. sorry ya kalo saya banyak ngerepotin. maklum, abang kan tahu kendala saya ada dimana? Essential course yang pernah kita ikuti saya harap bisa memajukan pendidikan kita, seperti kata abang, kurikulum kita masih banyak yang Low Order Thinking. walaupun demikian, jika kita menggunakan PBL ini minimal Proses belajar mengajar dengan menggunakan Kurikulum kita memiliki warna baru dan lebih bermakna. sehingga hasil yang diharapkan dari kompetensi tersebut dapat lebih mudah kita capai dan lebih maksimal. satu yang harus diperhatikan, Perlu adanya modifikasi dalam TEO ini agar rekan-rekan guru di Indonesia lebih mudah memahaminya. karena banyak hal-hal yang masih asing bagi guru kita. wassalam.
Hallo Bang Bajuri! Dimana Bajaj Ente?
Ehmm.. perlunya modifikasi? Saya kira modul TEO sudah sangat lengkap, dengan semua modul yang kita dapatkan kemarin (2 CD resource), kalau kita bisa memahaminya maka pengetahuan kita akan sangat kaya dan akan mampu mengaplikasikannya.
Namun perlu dipahami bahwa untuk aplikasi nantinya, dalam pelatihan para guru, harus diperjelas bahwa kita tidak mungkin menjejali siswa dengan semua skenario penggunaan teknologi informasi yang ada.
Jadi sebaiknya dipilih saja satu penggunaan teknologi dalam setiap unit plan (satu mata pelajaran). Menurut saya memberikan pengalaman penggunaan teknologi pada para siswa meskipun hanya sekali dalam satu semester akan sangat berguna.
Buat unit plan yang simple aja tetapi relevan, realistis dan efektif untuk bisa diterapkan di lingkungan sebenarnya.