Jun
10
2008
Setelah berhasil membuat pena inframerah, maka eksplorasi membuat interactive whiteboard dilanjutkan dengan mengkoneksikan Wii Remote (Wiimote) dengan komputer dan mencoba fungsionalitas pena infrared (IR pen). Untuk mengkoneksikan Wiimote dengan komputer (laptop), saya tidak membutuhkan driver khusus. Yang saya lakukan adalah menyalakan fitur bluetooth, menambah device, lalu klik secara bersamaan tombol 1 dan 2 di Wiimote untuk sikronisasi, lalu cari perangkat bluetooth di komputer berikutnya akan ditemukan perangkat baru bernama Nintendo Remote.
Continue Reading »
Jun
04
2008
Setelah berburu dan mendapatkan Wii Remote atau Wiimote, maka langkah selanjutnya adalah membuat Infrared (IR) pen. Pena infra merah ini nantinya digunakan layaknya stylus pen pada touch screen. Kita harus membuat sendiri perangkat ini karena tidak tersedia di pasaran. Untuk membuat IR pen ini dibutuhkan peralatan berupa : casing pena/spidol (saya menggunakan casing termometer) bekas, IR LED (infrared LED), saklar, resistor, casing batere, batere, kabel, solder, dan timah. Keseluruhan biaya yang dibutuhkan untuk membuat IR pen ini tidak terlalu mahal, sekitar Rp. 20.000 saja, murah bukan? Yang diperlukan hanyalah keahlian menyolder (jangan sampai tangan anda terbakar
gara-gara eksperimen ini)
Continue Reading »
Jun
04
2008
Untuk memulai bereksperimen membuat Interactive Whiteboard, saya membutuhkan berbagai peralatan seperti Wii Remote atau Wiimote, IR (Infra Red) Pen, aplikasi kalibrasi layar (Wiimote Whiteboard v2.0 buatan Johnny Lee) dan Tripod Kamera sebagai tempat meletakkan Wiimote. Perangkat yang pertama kali saya cari adalah Wii Remote (Wiimote), yaitu sejenis remote control, aksesoris dari mesin game Nintendo Wii. Untuk mendapatkan ini saya memanfaatkan search engine Google di Internet. Beruntung ada sebuah webstore yang menjual peralatan game yang menjual perangkat ini, nilai lebihnya adalah posisi toko offline-nya ada di Semarang, Jawa Tengah.
Continue Reading »
Jun
04
2008
Masih ingat dengan tulisan saya “Inspiring Technology in Education : Smart Board”? Sudah lebih dari 2 (dua) bulan ini saya begitu terinspirasi untuk memperoleh informasi yang banyak mengenai teknologi Interactive Whiteboard tersebut, syukur sih bisa memiliki, ya kalo ngga mampu (ngga punya uang untuk beli) mencobanya saja sudah lebih dari cukup
. Saya kaget setelah mengetahui harga Interactive Whiteboard seperti Smart Board ini harganya sangat mahal, lebih dari Rp. 30.000.000. Yah, kalo segini harganya mana mungkin diterapkan di sekolah-sekolah? padahal teknologi ini sangat menginspirasi. Yang ada di benak saya sekarang adalah, kalau teknologi ini diterapkan di sekolah, dengan didukung desain pembelajaran yang bagus, pasti siswa akan lebih aktif dan kreatif.
Continue Reading »
Apr
01
2008
Lho kok bisa?
Saya hanya mencoba menggunakan layanan Google Trends untuk membuktikan hal ini. Caranya? ketikkan kata e-learning dan elearning, pisahkan kedua kata tersebut dengan koma (e-learning,elearning). Kemudian klik tombol Search Trends. Maka akan tampil hasil analisa tren berdasarkan waktu dan wilayah. Google Trend memang ditujukan untuk melihat tren penggunaan keyword atau kata kunci dalam pencarian di mesin pencari Google.Com.
Continue Reading »
Apr
01
2008
Beberapa bulan lalu saya pernah mempromosikan Tutorom dalam blog ini. Nah sekarang giliran saya untuk mencobanya. Sebagai layanan gratis virtual classroom atau ada yang menyebut LMS (Learning Management System), fitur-fitur yang disediakan Tutorom sungguh mengesankan. Kemudahan penggunaan, serta kelengkapan fitur sangat memudahkan pengguna untuk membuat ruang kelas dan menyusun bahan ajar. Bukan itu saja, fitur gradebook menghadirkan format penilaian yang menarik.
Continue Reading »
Aug
20
2007
Kalo ngga begitu yaa bukan Indonesia namanya..he..he.. Ya, beberapa hari yang lalu ketika sweeping software berlangsung di toko komputer, lembaga kursus dan warnet maka mereka yang di-sweeping beramai-ramai untuk melakukan migrasi ke GNU/Linux. Waktu itu saya menyangka kalau sweeping yang dilakukan pihak kepolisian kali ini akan membawa dampak positif bahwa penggunaan software opensource akan meluas, namun hal itu hanya impian belaka. Banyak dari toko komputer dan warnet yang kembali lagi menggunakan software bajakan setelah sweeping selesai. Ah..sama juga ternyata… [The Indiebrainer]
Jun
15
2007
Ya, ungkapan diatas memang sering menghinggapi pemikiran penulis ketika memutuskan berniat untuk mengusung gerakan UGOS (UNISSULA Goes Open Source) di lingkungan kampus tempat bekerja. Jangan-jangan karena ketidak-tahuan mereka, gerakan ini akan dicibir dan dimusuhi, dikirannya kami hanya cari sensasi dan kurang kerjaan. Ah, fikiran tersebut sebaiknya penulis singkirkan saja, mengingat banyak juga pihak yang mendukung setelah mendapat penjelasan dari penulis.
Sedikit gambaran mengenai kampus kami, kampus UNISSULA (Universitas Islam Sultan Agung) Semarang didirikan oleh Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung. Setiap tahunnya UNISSULA mendapat suntikan dana investasi puluhan juta rupiah untuk membayar lisensi sistem operasi dan beberapa aplikasi propertiary (dalam kerjasama Microsoft Campus Agreement – MSCA). Beberapa tahun yang lalu kami memutuskan untuk menjalin kerjasama ini dikarenakan keinginan dari pihak kampus untuk melegalkan sistem operasi dan aplikasi perkantoran yang dipakai oleh sebagian besar keluarga besar kampus ini. Bukan itu saja, harapan kami setelah menjalin kerjasama ini kami akan mendapatkan ”nilai lebih” atas aplikasi yang kami beli. Artinya pihak Microsoft akan mengadakan kegiatan-kegiatan yang akan meningkatkan pengetahuan pihak kampus akan aplikasi-aplikasi yang dibeli. Belum lagi keinginan kami untuk lebih dekat dengan team support Microsoft supaya mudah untuk mendapatkan dukungan teknis apabila mendapati kendala dalam aplikasi. Namun kesemua diatas itu hanyalah utopia belaka, tak ada nilai lebih, tak ada support (kami pun belum pernah menelepon Microsoft untuk meminta bantuan), kami hanyalah menerima kiriman CD-CD aplikasi saja, tidak lebih dari itu.
Continue Reading »