Pagi itu, hari Jumat tanggal 19 September 2008 saya bersama dua orang teman dari DBE2 USAID berangkat ke SD Negeri 03 Menteng. Pagi itu kami telah membuat janji dengan pihak sekolah untuk melakukan kunjungan dan melihat dari dekat penerapan program Intel Classmate PC (CMPC) dari Intel Indonesia. SDN 03 Menteng yang juga disebut sebagai SD Venezuela (karena bekerjasama dengan pemerintah Venezuela) merupakan salah satu sekolah percontohan untuk penerapan program ini di Indonesia.
Tepat jam 08.30 kami sampai di sekolah. Kami disambut ramah oleh Kepala Sekolah Sugimin, S.Pd, selain itu hadir pula dari pihak Intel Education, sebagai narasumber kami nantinya, Mas Brimy Laksmana (Program Manager Intel Education), Pak Agnito Moningka (Senior Trainer Intel Education) dan Pak Arya (Intel Indonesia). Setelah berkenalan, kami langsung diajak ke ruang kelas untuk melihat secara langsung penerapan Intel Classmate PC (CMPC) di kelas. Hadir pula untuk tujuan yang sama teman-teman dari Sampoerna Foundation dan World Vision Indonesia (WVI).
Ketika pertama kali membuka pintu kelas, saya melihat salah satu sudut ruangan dimana terdapat sebuah rak berisi banyak laptop CMPC, dan secara bergantian para siswa mulai mengambil laptop satu persatu. Guru kelas yang mengajar kali ini adalah Hari Pujianto, S.Pd, yang mengajar Kelas VI. Sedangkan mata pelajaran yang diajarkan kali ini adalah Ilmu Sosial. Kami mengamati dan melakukan observasi kelas di pinggir ruang kelas, dengan CMPC di hadapan kami. Kami ingin melihat seberapa hebatnya penggunaan CMPC di dalam kelas untuk mendukung proses pembelajaran.
Pagi ini, bongkar-bongkar isi harddisk..eee.. ketemu foto ini, ya udah di upload aja kesini Foto tersebut merupakan tampilan blog The Indiebrainer di MacBook teman saya, hi…hi.. jadi malu… Kapan ya punya MacBook? Pengin banget siihh… tapi nabung dulu ahhh!…
Setelah berhasil membuat pena inframerah, maka eksplorasi membuat interactive whiteboard dilanjutkan dengan mengkoneksikan Wii Remote (Wiimote) dengan komputer dan mencoba fungsionalitas pena infrared (IR pen). Untuk mengkoneksikan Wiimote dengan komputer (laptop), saya tidak membutuhkan driver khusus. Yang saya lakukan adalah menyalakan fitur bluetooth, menambah device, lalu klik secara bersamaan tombol 1 dan 2 di Wiimote untuk sikronisasi, lalu cari perangkat bluetooth di komputer berikutnya akan ditemukan perangkat baru bernama Nintendo Remote.
Membangun laboratorium komputer untuk sekolah tentu saja harus mempertimbangkan beberapa hal, diantaranya : biaya pengadaan, biaya operasional serta pemeliharaan. Model laboratorium yang ada biasanya memanfaatkan banyak PC yang terkoneksi dalam jaringan. Konsumsi listrik dan biaya pengadaan hardware plus software menjadi pertimbangan penting bagi sekolah….
Nah, waktu browsing di Internet saya menemukan solusi ini, Ncomputing namanya. Dengan konsep Multi User Computing, ncomputing akan mengubah cara kita menggunakan. Ncomputing bisa memperbanyak sampai 10-30 pemakai dari 1 PC; Cocok untuk berbagai macam aplikasi dari small to medium size business, enterprise dan home markets.
Smart Board atau papan pintar merupakan sebutan untuk papan tulis yang interaktif. Memiliki fungsi yang sama dengan layar sentuh (touch screen), yang membedakan adalah ukuran layar dan teknologi yang digunakan. Saya hanya berkhayal memiliki teknologi ini di ruang kelas, lalu mendesain pembelajaran yang mengaktifkan siswa menggunakan Smart Board, mahasiswa bergantian maju kedepan untuk mencoba sesuatu dan menyelesaikan permasalahan, menggunakannya untuk memaparkan sesuatu…. ah mimpi di siang bolong . Manajemen kelas dengan satu komputer… dan komputer tidak hanya sebagai alat presentasi guru/dosen… namun mampu mengaktifkan siswa. Sangat menginspirasi!
Saksikan video dibawah ini untuk melihat aksi Smart Board dalam ruang kelas sebenarnya.
Beberapa hari setelah menjelajahi Eee PC, saya berkeinginan untuk mengganti sistem operasi yang ada dengan sistem operasi Windows XP. Buku panduan yang ada di dalam kardus menjelaskan cara instalasi menggunakan USB DVD drive, padahal saya tidak memiliki perangkat tersebut, sehingga saya harus putar otak.
Setelah lama browsing di Internet, akhirnya menemukan juga langkah-langkah untuk menginstalasi OS WindowsXP kedalam Eee PC menggunakan USB Flashdisk. Saya mendapatkannya dari berbagai sumber, namun langkah-langkah yang ada tidak dapat langsung diaplikasikan. Setelah mencoba dan menemui kesalahan-kesalahan maka langkah-langkah yang berasal dari berbagai sumber tersebut saya tambahkan dengan beberapa catatan penting…. yang memang begitu penting
Asus EeePC bersanding bersama Compaq Presario V3000
Malam tadi (11/02/2008) saat saya berkunjung ke BK Komputer (Jl. Satrio Wibowo, Tlogosari, Semarang), saya melihat ada Asus EeePC yang dipajang di depan toko mereka. Kebetulan saat itu saya kesana bertujuan untuk mengklarifikasi tentang Laptop Axioo saya yang hilang saat direparasi di Axioo Service Center, Surabaya. Ceritanya akibat ada sweeping di sana atau karena kelalaian salah seorang staff, notebook Axioo saya yang rusak akibat motherboard terbakar itu hilang entah dimana. Tanpa panjang lebar saya minta ganti saja dengan Asus EeePC seharga 4 juta rupiah, meskipun saya harus nambah biaya sekitar 2 jutaan (ngga pa pa lah.. yang penting dapat barang impian).
EeePC barusan dilepas dari kardusnya
Langsung saja EeePC ini saya bawa pulang. Tipe EeePC berwarna hitam ini adalah Surf 4G, dengan spesifikasi sebagai berikut :
Lumayan lah… dapat gadget baru yang begitu ringkas dan ringan untuk dibawa presentasi kemana-mana. Untungnya dalam EeePC ini terdapat port VGA out sehingga mampu untuk dicolokkan ke LCD Proyektor ketika presentasi. Saya masih akan terus mengeksplorasi gadget ini…. Terima kasih Mas Kadar (pemilik BK Komputer, meski agak mahal, but it’s ok! yang penting dapat barang impian) Tunggu kabar selanjutnya!
Saya selalu ingin mengumpulkan informasi dengan tag “keterbatasan” dan ”murah”, ya karena kondisi inilah yang berlaku dan cocok di negara ini. Pendidikan di Indonesia membutuhkan sesuatu yang murah agar penerapan ICT (Information dan Communication Technology) dalam pembelajaran dapat terlaksana, bukan sesuatu yang mahal, sulit digunakan, eksklusif dan mentereng . Kali ini giliran saya untuk mengumpulkan informasi mengenai notebook/laptop murah. Penggunaan laptop baru berharga murah, yang notobene menggunakan daya rendah dalam konsumsi listriknya diramalkan akan menggeser penggunakan PC (Personal Computer) rakitan atau PC bekas yang menggunakan daya listrik tinggi.
Konsumsi listrik memang menjadi isu sentral, karena berpengaruh pada biaya operasional pendidikan/sekolah. Bayangkan saja untuk membuat sebuah laboratorium komputer dengan sepuluh buah PC didalamnya akan membutuhkan daya lebih dari 2000 watt, bisa dibayangkan berapa jumlah tagihan listrik sekolah yang harus dibayar tiap bulannya?. Padahal dengan menggunakan laptop/notebook konsumsi daya yang dibutuhkan per unitnya adalah 70 watt, kalau dikali 10 maka total konsumsi sekitar 700 watt, plus kalau di dalam lab memakai LCD proyektor yang 250 watt maka keseluruhan konsumsi listrik yang dibutuhkan hanyalah 950 watt, sangat jauh bukan?.
Untuk itu kami menyajikan beberapa pilihan tipe notebook/laptop murah untuk Anda pembaca setia The Indiebrainer . Kategori laptop/notebook murah yang dimaksud adalah berharga kurang dari 5 juta rupiah. Diantaranya adalah : Zyrex Anoa, Zyrex Ubud, Asus EeePC, dan Byon M3311 G/C-W.