Archive for the 'Technopreneur' Category

Mar 06 2008

Pengumuman Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2008

Telat juga sebenarnya menulis tentang ini :) Beberapa waktu yang lalu saya dan mahasiswa berlomba-lomba membuat proposal PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) Tahun 2008. Hasilnya di tingkat Jurusan, kami berhasil mengirimkan lebih dari satu proposal, ada yang sifatnya pengembangan software, pengabdian masyarakat dan kewirausahaan IT. Nah, salah satu proposal bimbingan saya ternyata lolos yaitu tentang kewirausahaan TI.

Kami memilih tema tersebut karena masing jarang diikuti, jadi harapannya sih bisa keterima. Alhamdulillan doa tersebut akhirnya terjawab juga. Judul proposal PKM tersebut adalah : Jasa Dukungan Teknis dan Penyediaan Aplikasi Komputer Berbasis Open Source untuk Instansi, Usaha Kecil dan Indivindu sebagai Upaya Mengurangi Penggunaan Aplikasi Ilegal. Anggota kelompok yang terlibat didalamnya adalah : Siva Zainuddin dan Sidah Mufidah. Kedua mahasiswa anggota diatas adalah para aktivis komunitas Dakwah Open Source (DOS) Jurusan Teknik Informatika, Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang. Selamat Berkarya Mahasiswaku!

Untuk melihat pengumuman PKM 2008 silahkan download dokumennya disini [Pengumuman-PKM-2008.XLS].

No responses yet

Aug 29 2007

Provokator Teknologi, Bertugas Mem”bumi”kan Teknologi

Beberapa tahun yang lalu gaung teknologi Internet, Wireless Networking, VOIP dan GNU/Linux belumlah apa-apa tanpa campur tangan para provokator teknologi seperti Onno W. Purbo (juga teman-teman yang lain) dan berbagai Yayasan yang begitu konsen mensosialisasikan dan memperkenalkan teknologi tersebut ke masyarakat. Saat ini setiap orang dapat menikmati dan menggunakan teknologi diatas berkat kegigihan para provokator tersebut. Mereka (para provokator teknologi) rela turun ke lapangan, bertemu dengan orang-orang yang membutuhkan ilmu, memberi materi, menjawab berbagai pertanyaan dan senantiasa mencari alternatif-alternatif teknologi agar masyarakat dapat merasakan manfaatnya.

Tanpa provokator teknologi, maka teknologi yang telah dibuat hanya akan tersimpan dan diketahui oleh orang-orang “langit” saja, alias orang yang memang berkecimpung di bidang tersebut. Teknologi yang telah dihasilkan membutuhkan provokator teknologi agar “membumi” alias menjadi milik orang “bumi”, agar diaplikasikan dan dapat digunakan oleh mereka-mereka.

Anda ingin bergabung menjadi “provokator teknologi”, bisa saja! yang penting memiliki komitmen dan konsistensi. Komitmen untuk menyebarkan ilmu demi kepentingan masyarakat dan konsistensi dalam bidang keilmuan. Tak perlu harus berasal dari background Teknologi Informasi, namun Anda harus benar-benar faham tentang keilmuan yang “provokatori” biar ngga “ngisin-ngisini”. Juga harus diingat bahwa ketika berbicara dengan audience nantinya, kita harus menggunakan bahasa-bahasa yang mudah dimengerti oleh mereka, jangan sampai mereka jadi tambah pusing ketika menerima materi dari Anda. Lain ketika Anda berbicara dengan sama-sama orang langit, berbicara dengan bahasa langit, ya…no problem, tapi ketika berbicara dengan orang “bumi” kita harus membiasakan diri menggunakan istilah-istilah yang umum bahkan perumpamaan-perumpamaan ringan.

Jangan takut dicibir! Jangan mudah menyerah! Teruslah berprovokasi! itulah spirit provokator teknologi…. Nantinya ketika Anda berprovokasi akan ada cibiran dari orang-orang “langit” bahwa yang Anda provokasikan adalah hal yang sepele dan gampang.. Untuk menghadapi hal ini tenang saja.. Lakukan terus tugas Anda karena kerja ini lebih mulia dibanding menyembunyikan apa yang dimiliki tanpa mau berbagi dengan yang lain…

Pilih banyak media untuk menyebarkan provokasi Anda, bisa menggunakan Blog, Membuat E-Book, dan Media Massa. Kemudian jalin kerjasama dengan banyak pihak yang dapat mendukung kerja Anda, seperti perusahaan telekomunikasi, komputer dan lainnya. Kerjasama ini diperlukan untuk memperoleh berbagai bantuan sehingga Anda tidak perlu mengerjakan semuanya sendiri. Selamat ber-provokasi!, kami menunggu provokator-provokator teknologi baru! [The Indiebrainer]

3 responses so far

Aug 28 2007

Mediabrain Studio, Menyebarluaskan Ketrampilan E-Learning dan Multimedia Lewat Berbagai Workshop

Sudah beberapa bulan ini saya memutar otak supaya kinerja saya di bidang workshop e-learning dan multimedia menjadi lebih profesional. Akhirnya setelah melalui proses panjang saya memutuskan untuk membuat sebuah usaha baru bernama Mediabrain Studio dengan tagline “E-Learning and Multimedia Skill Development”. Namun usaha ini belum dapat dikatakan sebagai Lembaga Pendidikan Ketrampilan (LPK) mengingat usaha ini belum saya buatkan badan hukum, namun saya memberanikan diri untuk memulai terlebih dahulu (daripada dipendam dalam mimpi :) ). Mediabrain menawarkan dua model Workshop, yaitu INHOUSE TRAINING dan PRIVATE TRAINING. Model INHOUSE pelatihan dan workshop dilaksanakan di tempat peserta (universitas dan sekolah masing-masing) sedangkan model PRIVATE dilaksanakan di Mediabrain Studio.

Usaha ini bukan semata-mata bisnis, pertama yang saya pikirkan adalah kenapa selama ini hanya ada satu lembaga saja yang konsen menyelenggarakan workshop e-learning, yaitu SEAMOLEC, namun harga yang ditawarkan kayaknya masih belum terjangkau. Padahal e-learning dan multimedia untuk pembelajaran sangat bagus apabila dapat diterapkan di lembaga pendidikan. Nah lewat lembaga ini saya mencoba untuk memberikan solusi supaya semua pihak dapat mendapatkan ketrampilan dalam e-learning dengan biaya terjangkau.

Dengan membawa nama Mediabrain Studio ini saya telah memulai untuk berkeliling menyelenggarakan workshop E-Learning, bulan kemarin ada dua tempat yang meminta kami untuk menyelenggarakan workshop yaitu Fakultas Farmasi dan IESP (Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Sebenarnya capek juga berkeliling ke berbagai tempat, namun semangat untuk menyebarluaskan ketrampilan e-Learning itulah yang membuat kami tetap enjoy ditambah antusiasme peserta workshop yang sebagian besar berusia 40-50an tahun (lebih banyak dosen senior yang ikut dibanding yuniornya) membuat kami tetap bersemangat. Untuk informasi lebih lanjut mengenai program workshop yang ditawarkan, silahkan buka : http://mediabrain-studio.com atau berkirim surat ke alamat : info [at] mediabrain-studio [dot] com

One response so far

Aug 20 2007

Sweeping Selesai, Ya Balik Lagi ke Windows Bajakan

Kalo ngga begitu yaa bukan Indonesia namanya..he..he.. Ya, beberapa hari yang lalu ketika sweeping software berlangsung di toko komputer, lembaga kursus dan warnet maka mereka yang di-sweeping beramai-ramai untuk melakukan migrasi ke GNU/Linux. Waktu itu saya menyangka kalau sweeping yang dilakukan pihak kepolisian kali ini akan membawa dampak positif bahwa penggunaan software opensource akan meluas, namun hal itu hanya impian belaka. Banyak dari toko komputer dan warnet yang kembali lagi menggunakan software bajakan setelah sweeping selesai. Ah..sama juga ternyata… [The Indiebrainer]

9 responses so far

Jul 03 2007

The Indiebrainer di E-Learning & Multimedia Course Content Development Workshop di Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

Demi menjaga mutu sekaligus mewujudkan mimpi menjadi ‘the international recognized and information technology faculty’, sekali lagi Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Workshop Multimedia. Kali ini adalah Workshop Pelatihan Media Ajar. Kegiatan ini merupakan agenda PHK A2 Farmasi dan diselenggarakan pada tanggal 23, 25-27 Juni 2007 di Laboratorium Komputer Farmasi yang terletak di lantai 3. Adapun pematerinya adalah Winastwan Gora S., ST, MT, dari Unissula dan Pimpinan Mediabrain Studio.

Materi yang diajarkan terbilang sangat baru bagi kalangan dosen farmasi, yang meliputi :
1. Multimedia CD Authoring with MS Producer 2003 (E-Learning basic, Pre Production, Production dan Post Production)
2. Macromedia Flash
3. E-book Publishing & Guidance in Production (Technical Review Consultation in Multimedia CD Production).
4. Course Content Publication in internet (Making Blog, Setting, Manage content, Customization and Submitting to Searching Engine)

Diharapkan setelah mengikuti kegiatan ini para dosen dapat membuat media perkuliahan yang interaktif dan menarik sehingga meningkatkan minat belajar mahasiswa sekaligus dapat mempublikasikan hasil-hasilnya dalam bentuk blog pendidikan yang dapat diakses kapan pun dan di manapun.

Kegiatan ini diikuti oleh 23 dosen farmasi dan semuanya tampak antusias mengikuti pelatihan. Semoga bisa membawa perubahan ! [The Indiebrainer]

No responses yet

Jun 06 2007

Pendidikan Kewirausahaan Teknologi Informasi yang Setengah Hati

Tulisan ini merupakan keluh kesah penulis yang selama ini melihat ketidakseriusan pihak perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pendidikan teknologi informasi dan informatika khususnya, dikarenakan program studi yang selama ini ada tidak dengan serius memberikan materi kewirausahaan teknologi informasi. Yang selama ini terjadi adalah pendidikan kewirausahaan di realisasikan dalam sebuah mata kuliah kewirausahaan yang notobene hanya 2 (dua) SKS saja, itupun tidak spesifik menyentuh aspek praktik teknologi informasi. Dengan volume pengajaran yang 2 (dua) SKS saja, penulis mengira masih belum cukup untuk memperoleh hasil yang maksimal, seperti yang diharapkan oleh institusi pendidikan tinggi, yaitu mencetak wirausaha di bidang teknologi informasi.

Selama ini dosen kewirausahaan hanya mengajarkan teori-teori kewirausahaan, kepemimpinan dan ekonomi saja, namun aplikasi di lapangan, pentingnya HAKI dan kemandirian teknologi (seperti penggunaan software opensource) tidak pernah disentuh. Bahkan lucunya, banyak pula dari dosen yang mengajarkan kewirausahaan tersebut belum atau tidak memiliki usaha mandiri atau berwirausaha. Hasilnya, pendidikan teknologi informasi di Indonesia tetap saja menghasilkan banyak kuli-kuli TI yang terkungkung sebagai mesin uang bagi pemilik modal besar.

Terdapat sebuah contoh menarik yang dilakukan oleh Universitas Gunadarma, yang merupakan salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Universitas ini memiliki sebuah bisnis inkubator yang setiap tahunnya berusaha mencetak lebih dari 10 (sepuluh) perusahaan TI dari para mahasiswanya yang telah lulus. Dalam inkubator bisnis tersebut kelompok mahasiswa diajarkan pendidikan kewirausahaan, mulai dari pembuatan proposal bisnis, studi kelayakan usaha, pendidikan ketrampilan, kepemimpinan dan organisasi, kemandirian teknologi (dengan software opensourse) sampai pada hasil akhir berupa sebuah perusahaan TI lengkap dengan ijin badan usaha dari pemerintah (berbentuk CV). Staf pengajar yang bergerak di inkubator bisnis lebih banyak dari para praktisi TI yang telah berhasil berwirausaha. Untuk menjalankan inkubator bisnis tersebut universitas dibantu oleh Departemen Perindustrian, khususnya dalam urusan dana. Terbukti, saat ini banyak perusahaan IT di Indonesia di dominasi oleh perusahaan hasil inkubator bisnis dari Universitas Gunadarma. Tanpa bantuan dari pemerintahpun sebenarnya setiap perguruan tinggi dapat menjalankan model pendidikan kewirausahaan seperti ini disesuaikan dengan besaran dana yang ada. 

Sepenggal pengalaman tersebut adalah bukti konkret keberhasilan pendidikan kewirausahaan teknologi informasi di perguruan tinggi yang memiliki program studi teknologi informasi, informatika dan komputer. Penulis berharap apa yang telah dipaparkan diatas dapat menjadi inspirasi bagi perguruan tinggi yang lain untuk melakukan hal yang sama, agar bangsa ini dapat segera lepas dari masalah pengangguran.

One response so far

Jan 18 2007

Pendidikan Guru, Saatnya Memproduksi Enterpreneur

Kemarin (16/1), The Indiebrainer beranjangsana dan bersilaturahmi ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng. Ajang silaturahim ini dimaksudkan untuk menjalin hubungan kerjasama sekaligus berdiskusi tentang tren pendidikan profesi guru sekarang ini. Dari kampus kaligawe kami berangkat bersama Bapak Rektor UNISSULA, Wakil Rektor II, perwakilan dari Fakultas Agama Islam, yang diwakili oleh Bapak Dekan beserta struktural lainnya. Di kantor Dinas P&K Jateng, di jalan Pemuda Semarang, rombongan kami disambut oleh Bapak Widadi, SH selaku Kepala Dinas P&K Jateng beserta staff.

Yang menarik dari diskusi yang kami lakukan adalah wawasan yang diberikan oleh Pak Widadi, SH dimana sebenarnya di wilayah Jawa Tengah ini tidak kekurangan tenaga pengajar, malahan jumlahnya kini berlebih. Sehingga pendidikan penghasil tenaga guru saat ini harus berfikir bagaimana meng-create tenaga guru yang kompetitif. Saat ini hampir semua institusi pendidikan guru bertujuan mencetak tenaga pengajar yang bekerja untuk lembaga pendidikan formal (sekolah swasta dan negeri), namun belum terfikirkan bagaimana mencetak tenaga guru untuk berkecimpung di bidang pendidikan non-formal dan juga berperan sebagai enterpreneur (wirausahawan/wati).

Selama ini para mahasiswa hanya berfikir bagaimana mereka dapat menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) mengisi formasi guru yang ada, padahal untuk tahun ini sampai tahun 2009 formasi PNS untuk guru hanya di prioritaskan untuk pengangkatan tenaga honorer yang saat ini jumlahnya ribuan di Indonesia. Jadi sampai tahun 2009 tidak tersedia formasi PNS bagi para lulusan pendidikan guru. Jadi siap-siap saja bagi pendidikan guru di Jawa Tengah khususnya untuk memproyeksikan lulusannya menjadi guru swasta dan enterpreneur dalam pendidikan non-formal. [The Indiebrainer]

2 responses so far

Dec 07 2006

Camera Rolling… Action!!!

Published by gora under Diary, Technopreneur, Video Production

Tim ProduksiSeminggu sudah rekan-rekan Indiebrainer Studio (my start-up company) melakukan produksi untuk Company Profile Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang. Kita dapat orderan ini dari UPT Promosi, dan harus selesai pada bulan Januari besok. Kru produksi kali ini adalah Eko Y. (Alumni D-3 Perfilman Institut Kesenian Jakarta, sebagai penulis skenario), Haris (kameraman), Kresno (pencatat adegan dan lighting) dan saya (sutradara). Proses produksi dijadwalkan selama 10 (sepuluh) hari, setalah itu tim sudah harus konsen ke tahapan paska produksi. Setelah paska produksi, gantian produksi Iklan TV (TV Commercial) dimulai. Jadi selain membuat Company Profile, perusahaan kita mendapatkan job untuk membuat TVC juga. Untuk TVC direncanakan untuk membuat 3 (tiga) versi. Susunan tim produksi ini memang relatif baru, sebelumnya saya, Haris dan Kresno biasa bekerja sama dengan Bayu Widagdo (Alumni D-3 Komunikasi UNDIP), tapi berhubung Bayu sedang ada kesibukan lain yang lebih penting (menyelesaikan Tugas Akhir S-1 nya) maka posisinya digantikan Eko. Lanjutin kerja ah… Camera Rolling and… Action!!!

No responses yet