Pagi ini (25/03/2008) koneksi Internet menggunakan TelkomselFLASH sudah berfungsi seperti sedia kala, yaitu bisa untuk mengakses situs-situs internasional. Gangguan yang terjadi selama dua hari ini sangat menggangu kegiatan kerja saya, utamanya untuk membuka email dan posting di blog. Tadi malam saja saya terpaksa harus ke Warnet M@ESTROnet yang berlokasi di depan kampus Universitas Terbuka (UT), Pondok Cabe, Tangerang.
Sudah beberapa hari ini saya menggunakan layanan Telkomsel FLASH beserta USB modem Huawei yang disertakan dalam paket langganannya. Memang sudah lama saya menggunakan layanan koneksi internet mobile, sebelumnya saya menggunakan handphone CDMA Nokia dengan layanan Jagoan dari Indosat StarOne untuk berkoneksi di rumah. Namun, akhir-akhir ini keadaan berubah, saya membutuhkan koneksi Internet dimanapun saya berada di seluruh wilayah di Jawa Tengah.
Koneksi Internet tersebut saya gunakan untuk berkoordinasi dengan kantor di Semarang via YM dan Email. Saya juga gunakan koneksi tersebut untuk menunjang kegiatan pelatihan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk para Guru di Jawa Tengah. Kemarin hari Sabtu saya pertama kali menggunakan layanan ini di pelatihan pembelajaran aktif dengan ICT di Kudus, kebetulan materinya Pengenalan Internet untuk Mencari Sumber Belajar. Lumayan juga, meski hanya menggunakan layanan GPRS (sinyal 3G di lokasi tidak ada) hal ini sangat membantu saya. Terus Berkarya!
Kebetulan saya dapat mainan baru lagi, sebuah handphone Nokia N70 series yang punya kemampuan 3G. Sengaja saya beli handphone ini karena ingin mengeksplorasi lebih jauh tentang teknologi ini, khususnya dalam pemanfaatan untuk menunjang proses pendidikan dan pembelajaran. Teknologi 3G saat ini masih banyak digunakan hanya sebagai penyedia akses internet dan data saja. Namun saya begitu apatis dengan teknologi ini setelah melihat sendiri bagaimana kinerja teknologi ini. Bagaimana tidak, ketika membawa handphone ini keliling kota, saya hanya melihat adanya sinyal 3G di jalan-jalan protokol kota ini belum sampai ke pelosok-pelosok kota Semarang. Hal ini berbanding terbalik dengan sinyal CDMA yang biasa saya gunakan untuk berkoneksi internet.
Saya juga mencoba layanan video streaming yang disajikan oleh layanan 3G Telkomsel, hasilnya ternyata kurang memuaskan, masih banyak terjadi delay, dan kualitas gambarnya tidak begitu bagus (yah, tergantung sinyal juga sih…). Pada intinya saya masih belum dapat berharap banyak kepada teknologi ini, mungkin sejalan dengan waktu teknologi ini akan terus mengembangkan dirinya sejalan dengan pertumbuhan konten yang lewat didalamnya… Semoga!
Pengalaman menarik saya dapatkan minggu lalu ketika ayah mertua saya meminta saya untuk membuka SMS yang diterima di handphone beliau. Karena sedang konsen menyetir mobil, beliau menyerahkan handphone nya kepada saya yang kebetulan berada tepat disampingnya untuk membacakan pesan yang ada pada SMS tersebut. Saya terperanjat ketika melihat keypad handphone beliau tidak ada hurufnya! Ha..ha..ha… :) Berikutnya saya sangat kebingungan ketika beliau meminta saya untuk membalas SMS tersebut. Terang aja saya bingung karena ngga begitu hapal dengan keypad handphone tersebut. Akhirnya dengan penuh daya upaya bisa juga membuat balasan pesan…. Puihhh.. Gila man! Berarti ayah mertua saya hapal banget yaaa? Bagaimana dengan Anda?
Biasanya untuk berkoneksi Internet menggunakan piranti mobile kita gunakan GPRS (di GSM) dan PDN (di CDMA) dengan perhitungan tarif Volume Based (besaran biaya dihitung berdasarkan paket data yang di download dan di upload). Opearator yang ada di Indonesia rata-rata menetapkan tarif volume based dalam kisaran Rp.3/kb sampai dengan Rp.5/Kb untuk produk prabayarnya. Sedangkan produk pasca bayar rata-rata menetapkan tarif dalam kisaran Rp.3/kb (Fren dan Flexi), meskipun ada pula yang memberikan harga super hemat semacam produk paska bayar Jagoan (StarOne) yang memberikan tarif Rp.150.000/bulan untuk kuota 1 Gb.
Saat ini sedang tren penggunaan internet mobile dengn tarif Time Based, atau besaran biaya dihitung berdasarkan waktu (lamanya) berkoneksi. Layanan ini dalam komunikasi kabel sudah dikenal lama, prinsipnya sama dengan internet model Dial-Up. Namun dial up ini kita lakukan di lingkungan komunikasi seluler. Tetapi ada perbedaan mendasar antara koneksi Internet dial-up (internet tarif time based) telepon konvensional (wired) dengan internet Time Based versi Selular, bedanya kalau di dial-up konvensional pengguna mengeluarkan biaya untuk pulsa lokal plus tambahan biaya yang dikenakan oleh ISP (Internet Service Provider), namun di Internet tarif Time Based di selular pengguna cukup mengeluarkan pulsa untuk ISP saja, jadi tidak perlu lagi pulsa lokal.
Cara berkoneksinya sama dengan Internet mobile versi Volume Based yang lain, jadi kita cukup melakukan dial ke nomor tertentu (misalnya #777), kemudian lengkapi User Name dan Password yang tampil di kartu/voucher internet prabayar (yang bisa didapatkan di counter operator). Kalau dihitung-hitung dengan kecepatan rata-rata yang sama, penulis merasa bahwa penggunaan pentarifan Time Based ini lebih murah dibandingkan dengan model tarif Volume Based (silahan lihat perbandingannya di postingan ini). Setahu penulis, ISP yang menyediakan layanan internet mobile dengan tarif Time Based baru Indosat M2 dengan produk IndosatNet Mobile-nya.
Indosat M2 menetapkan tarif Rp.165/menit untuk produk pra bayar dan Rp.160/menit untuk produk paska bayar. Untuk dapat menggunakan layanan ini Anda diwajibkan melakukan dial-up dari kartu Indosat StarOne atau dapat juga menggunakan kartu Fren dari mobile-8. Indosat M2 menyediakan voucher dalam besaran Rp.25.000, 50.000 dan 100.000 dalam bentuk fisik dan elektrik (pengisian dilakukan lewat SMS). Jangan khawatir pulsa yang ada di kartu Anda akan berkurang, karena untuk berkoneksi Internet, layanan ini secara otomatis akan mengurangi jumlah pulsa yang ada di voucher Anda tanpa mengurangi pulsa yang ada di kartu.
Kabarnya Telkom Speedy juga akan mengeluarkan produk Time Based nya tapi belum tahu kapan akan diluncurkan ke pasar. Pastinya dengan adanya perang tarif antar operator seperti ini yang akan diuntungkan adalah pelanggan Internet seperti kita. Selain kita memiliki banyak pilihan untuk berkoneksi, murahnya tarif pada saat promosi jelas-jelas menggiurkan. [The Indiebrainer]
Flash Lite merupakan platform pengembangan aplikasi mobile (aplikasi handphone dan PDA) menggunakan Macromedia Flash. Pengembangan aplikasi ponsel menggunakan platform Flash Lite diramalkan akan menggusur model pengembangan konten menggunakan platform J2ME (Java 2 Micro Edition) karena kemudahan proses pengembangan yang ditawarkan. Aplikasi yang dibuat nantinya dapat dijalankan pada smartphone dengan sistem operasi Symbian Series 60, seperti Nokia 7650, N3660, N6600, Sony Ericsson P800, Siemens SX-1 dan lain sebagainya. Tutorial ini merupakan bagian pertama dari seri pengembangan aplikasi mobile dengan platform Flash Lite. Objektif dari tutorial kali ini adalah menginstal Flash Lite 1.1 dan membuat aplikasi handphone untuk pertama kali, dengan membuat aplikasi “Hello World!”. Tutorial lengkap dan bergambar dalam format PDF didalam file ZIP dapat di-download disini [Flashlite-Tutorial-1.zip]. Setelah mendownload tutorial tersebut silahkan meninggalkan jejak Anda dalam fasilitas komentar yang tersedia.[The Indiebrainer]
Ketika pertama kali mencoba koneksi Internet menggunakan PDN-nya Flexi, penulis sempat kaget mengapa tagihan bulanan melonjak menjadi 650-an ribu. Saat itu penulis begitu asyik sehingga tidak memperhatikan jumlah data yang terdownload dan terupload. Kemudian penulis memperhatikan jumlah data yang lewat menggunakan aplikasi Net Meter. Aplikasi ini dapat menghitung jumlah data yang masuk dan keluar, sehingga kita dapat mengontrol penggunaan Internet.
Dalam laporan Net Meter terlihat bahwa kapasitas data yang lewat cepat sekali mencapai angka Megabyte (MB), padahal kalau dinalar penulis hanya menggunakan web browser untuk surfing, tanpa mendownload file yang besar. Setelah diselidiki ternyata banyak aplikasi dari komputer yang secara otomatis melakukan update dan download, yaitu : Windows Update, Norton LiveUpdate, Mozilla Update.
Ketiga aplikasi tersebut akan melakukan update dan memeriksa jika terdapat update, dan jumlah byte yang di-dwnload pun begitu besar sehingga kalau kita menggunakan layanan Internet packet based (GPRS dan PDN), yang notobene besarnya biaya dihitung dari kapasitas data yang diupload dan didownload, maka hal ini tentu saja akan menjebol kantong kita. Lain lagi dengan layanan time based, yang menggunakan hitungan waktu, dimana besaran biaya dihitung berdasarkan lamanya terkoneksi dengan Internet sehingga besaran data tidak menjadi masalah, maka tips dari kami :
Matikan fitur update pada aplikasi yang terinstal di komputer.
Bersihkan komputer dari virus, malware dan spyware yang mungkin akan menggangu ketika berselancar di Internet, atau diantisipasi dengan menginstal software Antispyware dan Antivirus
Gunakan koneksi time based ketika mendownload file yang besar, karena jika dibandingkan dengan packet based, model ini jelas lebih hemat.
Untuk koneksi time based dan packet based, kami membuktikannya dengan cara melakukan download software sebesar 6,72 MB atau setara dengan 6720 kb. Ini berarti, pulsa akan terkuras Rp. 20.160 bila menggunakan layanan packet based (volume based) prabayar dengan tarif Rp.3/kb dan Rp.33.600 jika menggunakan layanan bertarif Rp.5/kb. Sedangkan ketika kami menggunakan layanan time based, dengan bandwith yang sama dengan kecepatan asli rata-rata mencapai sekitar 8 Kbps, maka waktu yang digunakan sekitar 14 menit, 36 detik. Jika dibulatkan menjadi 15 menit. Tarif time based prabayar yang digunakan adalah Rp.165/menit. Jadi total biaya pemakaian Internetnya adalah : 15 x Rp.165 = Rp.2.475. Jadi lebih murah mana? [The Indiebrainer]
Bulan Juni nanti Apple Inc. akan mulai mengedarkan iPhone ke pasaran. Kelebihan dari iPhone adalah graphical user interface (GUI) yang cantik dan user friendly, seperti halnya GUI pada produk Apple yang lain. Keunikan lainnya adalah pengguna tidak perlu menggunakan stylus/pena untuk mengoperasikan iPhone ini seperti halnya PDA lainnya, namun cukup dengan jari saja. Sebelum dapat membeli, Anda dapat melihat lebih dekat iPhone lewat video tayangan stasiun televisi CBS saat meliput ajang Macworld beberapa waktu yang lalu.
Name : Winastwan Gora S.
Dosen Teknik Informatika UNISSULA Semarang, ICT Coordinator Decentralized Basic Education (DBE) 2 Province Central Java, penulis dan praktisi IT yang menetap di kota Semarang, Jawa Tengah. Email: gora [at] unissula.ac.id Cell: +6281-325085446 YM: indiebrainer